Detail Berita

SEJARAH DESA BANJAREJO ,diperkirakan Desa Banjarejo berdiri sejak tahun 1783

Dusun Selobrojo

       Datang seseorang pinisepuh asal Kerajaan Singosari yang dikenal bernama Mbah Bendu yang konon diceritakan bahwa beliau adalah tawanan perang kerajaan Singosari yang melarikan diri pada saat pecahnya perang Kerajaan Singosari dengan Majapahit sekira tahun 1.294 M. beliau adalah bebendunya (Tawanan Perang) kerajaan maka beliau dijuluki oleh generasi pada masa itu dengan nama Mbah Bendu sedangkan nama yang sebenarnya hingga saat ini belum diketahui.

       Pelarian Bebendu tersebut tetap menjadi target pencarian dari Kerajaan Singosari, yang dengan perintah Raja bahwa satuan prajurit khusus ditugaskan untuk mencari Bebendu Kerajaan sampai ditemukan hidup maupun mati. Selang beberapa waktu Prajurit Singosari menemukan jejak Bebendu tersebut, ternyata sedang bertapa pada suatu tempat yang sekarang tempat itu dikenal oleh Masyarakat bernama Sendenan (sandaran bertapa), kemudian Prajurit Singosari bergegas hendak menangkap Mbah Bendu ternyata sekejap mata menghilang dari pandangan. Karena sudah kehilangan jejak sedangkan para Prajurit yakin bahwa Mbah Bendu tetap berada disekitar belukar dimana beliau bertapa, maka dengan segala kesaktiannya para Prajurit menghujani wilayah tersebut dengan batu hingga diyakini karena tindakan itu bahwa Mbah Bendu sudah meninggal dunia yang akhirnya dilaporkan kepada Raja Singosari bahwa Bebendu yang menjadi target pencariannya sudah Meninggal dan tidak ditemukan mayatnya.

       Karena serangan hujan batu inilah sehingga wilayah ini kini dikenal dengan nama Dusun Selobrojo hingga sekarang. Dengan artian Selo berarti batu dan Brojo berarti hujan, namun ternyata Mbah Bendu tidak mati dan pada akhirnya Beliau membabat/membuka wilayah ini hingga kemudian menjadi tempat hunian penduduk. Akan tetapi wilayah ini  kerap kali dila. Sehingga Mbah Bendu sungguh prihatin dan pada akhirnya beliau berusaha untuk memasang tumbal membendung banjir agar tidak mengaliri wilayah hunian penduduk, maka Beliau menancapkan sebatang kayu Teken dan diberi tanda tanaman buah “Lo” sebagai Turus/rajeknya banjir yang hingga kini masih hidup rindang.

       Berkat jasa kesaktian Mbah Bendu membendung banjir tersebut maka selanjutnya masyarakat memberi nama Mbah Bendu menjadi Mbah Bendung hingga sekarang.

 

Dusun Turus

       Didirikan oleh pinisepuh yang bernama Mbah Lameng, beliau datang ke wilayah ini bersama istrinya dengan tujuan mencari saudaranya yang bernama Kyai Ageng Prajekan (Babat Dusun Babeh) yang sedianya hendak bergabung bersama-sama menghuni wilayah Bedander.

       Setelah menemukan saudaranya yaitu Mbah Kyai Ageng Prajekan tersebut Mbah Lameng beserta istrinyapun juga bergabung diwilayah ini. Akan tetapi selang waktu yang tidak terlalu lama Mbah Lameng mendengar cerita kalau disebelah wilayah ini ada wilayah lain yang tidak terlalu jauh dihuni dan dibabat oleh Mbah Bendung, kemudian Mbah Lameng melakukan anjang sana kewilayah Selobrojo yang dimaksudkan itu ternyata seseorang yang terkenal dengan nama Mbah Bendung itu  dahulunya adalah teman akrapnya Mbah Lameng.

       Pada akhirnya Mbah Lameng beserta istrinya mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan Mbah Kyai Ageng Prajekan melainkan beliau berdua pilih bergabung dengan Mbah Bendung.

       Kemuadian Mbah Lamenglah yang mendampingi Mbah Bendung menancapkan kayu Teken dan diberi tanda tanaman buah “Lo” sebagai Turus/rajeknya banjir yang hingga kini masing hidup rindang itu dan pada saat itu Mbah Bendung berpesan bahwa sepeninggal beliau diharapkan Mbah Lameng membuka wilayah hunian di sebelah barat Dusun Selobrojo karena sudah dinyatakan aman terhadap bencana banjir.

       Sepeninggal Mbah Bendung benar Mbah Lameng pada sekira tahun 1.314 M. beserta istrinya melaksanakan wasiat yang telah diterimanya dari Mbah Bendung untuk membuka wilayah hunian disebelah barat Dusun Selobrojo yang kemudian guna mengenang wasiat tersebut yang disampaikan oleh Mbah Bendung dibawah pohon “Lo” yang sebagai Turus/rajeknya banjir tersebut, maka wilayah hunian baru yang dibabatnya diberikan nama Dusun Turus yang nama ini dikenal hingga sekarang.

       Akan tetapi karena Mbah Bendung pada saat itu telah tiada akhirnya Mbah Lameng memimpin juga wilayah Dusun Selobrojo, sehingga dua dusun ini digabung jadi satu. Karena berbagai perkembangan sosial kemasyarakatan dan Pemerintahan desa Banjarejo sedikit demi sedikit merangkak menuju kemajuan, maka melalui Perdes. Nomor 01 Tahun 2008 ditetapkan di Banjarejo pada tanggal 10 Maret 2008 dan telah diundangkan oleh Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Malang melalui Berita Daerah Kabupaten Malang Tahun 2009 Nomor 23/D tertanggal 3 Maret 2009 Dusun Turus resmi menjadi dusun sendiri dan terpisah dari Dusun Selobrojo dengan dipimpin oleh Kepala Dusun yaitu Bpk. Marba’an yang beliaunya adalah mutasi dari jabatan semula sebagai Kuwowo dusun Selobrojo Turus.

 

Dusun Babeh

       Didirikan oleh pinisepuh yang terkenal dengan sebutan nama Mbah Kyai Ageng Prajekan berasal dari Kerajaan Demak sekira tahun 1.304 M. dan memberi nama wilayah ini dengan sebutan “Bedander”, akan tetapi wilayah ini sulit untuk berkembang karena jumlah penduduk penghuninya amat sedikit hingga sepeninggal Mbah Kyai Ageng Prajekan. Generasi penerus/penghuni wilayah ini hampir putus asa dan hendak meninggalkan tempat huniannya kemudian hijrah bergabung pada tempat hunian wilayah lainnya.

       Sebelum niat hijrah betul terjadi, datanglah penguni baru yaitu Mbah Romo beserta anak keturunannya yang berasal dari Bangil yang kemudian bergabung untuk melestarikan wilayah ini yang mana nama sebutan Bedander sudah mulai pudar tidak lagi mendarah daging pada penghuninya. Dengan kedatangan Mbah Romo beserta anak keturunannya tersebut membuat wilayah ini berkembang dengan baik dan penduduk penghuninya betul-betul rukun dan guyub, boleh dibilang istilah jawanya “obah siji obah kabeh” atau bergerak satu juga bergerak  semuanya sehingga wilayah ini selanjutnya dikenal dengan nama  Dusun Babeh hingga sekarang.

 

Dusun Laju

       Dusun ini didirikan sekira tahun 1.352 M. oleh pinisepuh yang bernama Surowinoto asal dari Kerajaan Mataram yang kemudian dibantu oleh pinisepuh yang bernama Dipoyudo asal dari Tuban. Wilayah ini cukup berkembang dengan pesat dengan datangnya pengungsi dari Bangil sehingga kemajuan wilayah ini boleh dibilang lancar/cepat (istilah jawanya Laju), maka dengan kelancaran/kecepatan perkembangan wilayah ini hingga akhirnya dikenal dengan nama Dusun Laju dan nama tersebut dipertahankan sampai sekarang.

Berita Lain